DILEMA MORAL : GURU MENGHAMBA KE MURID, GURU MENGELUARKAN MURID
(GURU SMKN 1 KENDARI)
DILEMA MORAL : GURU MENGHAMBA KEPADA MURID, GURU MENGELUARKAN MURID DARI SEKOLAH
A.
Pendahuluan
Tulisan ini diambil dari Pernyataan Dasar saya yaitu
: bila guru menghamba kepada murid, bila
sekolah sebagai tempat pendidikan dan pembentukan karakter murid maka guru tidak
mengeluarkan murid dari sekolahnya.
Dinamika dan permasalahan pendidikan hari ini semakin kompleks, kebijakan mengeluarkan
murid sebagai sanksi atas pelanggaran tertentu telah menjadi topik
kontroversial. Tulisan ini akan mengeksplorasi dampak dari kebijakan ini,
khususnya saat murid yang dikeluarkan sekolahnya tentu menghadapi situasi yang
serupa di sekolah lain. Selain itu, kita akan menyoroti peran guru dalam konteks
kurikulum merdeka yang harusnya membebaskan, menuntut keterlibatan lebih
terhadap perkembangan muridnya, di mana peran guru tidak hanya mengajar tetapi
juga menghamba bahkan kadang-kadang menegakkan kebijakan yang merampas murid
dari ruang belajarnya. Kontradiksi ini, menggambarkan panggilan moral guru
dalam melayani dan mendidik sambil mengeksplorasi kebijakan yang dapat
menghasilkan pengucilan pendidikan sehingga terperangkap dalam dilema moral. Sebagai
pahlawan moral, guru menghadapi beban tanggung jawab yang luar biasa dalam
membimbing murid, membimbing karakternya yang bertanggung jawab atas
pembentukan generasi penerus.
B.
Karakteristik Murid Generasi Z dan Konfliknya
Murid generasi Z, yang
lahir antara pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an, membawa karakteristik
unik yang berkembang seiring dengan kemajuan teknologi, perubahan budaya, dan dinamika
sosial. Berikut beberapa karakteristik khas dari murid generasi Z beserta
potensi konflik yang dapat muncul, saya menguraikannya kedalam 7 aspek yatu :
1. Terpusat pada Teknologi
Karakteristik : Terbiasa dengan teknologi digital sejak dini, memiliki kecakapan dalam menggunakan perangkat dan platform digital.
Konflik : Kemungkinan konflik muncul terkait dengan pengelolaan waktu dan konsentrasi, terutama jika terlalu tergantung pada perangkat digital dirumah dan di kelas
2. Kreatif dan Inovatif
Karakteristik : Cenderung memiliki pemikiran kreatif dan inovatif, mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perkembangan baru.
Konflik : Mungkin menemui ketidakcocokan jika terdapat kurangnya ruang untuk mengekspresikan ide-ide kreatif mereka dalam kurikulum tradisional.
3. Sosial dan Aktivis
Karakteristik : Peduli terhadap isu-isu sosial dan lingkungan, cenderung ingin berkontribusi pada perubahan positif.
Konflik : Potensi konflik muncul jika kurikulum tidak mencakup isu-isu yang dianggap penting oleh generasi Z atau jika tidak ada ruang bagi partisipasi aktif.
4. Mandiri dan Fleksibel
Karakteristik : Memiliki kemampuan untuk mandiri dan beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan.
Konflik : Mungkin merasa terbatas atau kehilangan minat jika kurikulum dan metode pengajaran terlalu kaku atau tidak mendukung fleksibilitas.
5. Cenderung Memiliki Pemikiran Kritis
Karakteristik : Seringkali memiliki kecenderungan untuk mempertanyakan informasi dan memiliki pemikiran kritis terhadap otoritas.
Konflik : Potensi konflik muncul jika pendekatan pendidikan cenderung otoriter atau tidak mendukung diskusi terbuka.
6. Rentan terhadap Stress dan Kecemasan
Karakteristik : Tekanan sosial dan akademis dapat menyebabkan tingkat stres dan kecemasan yang tinggi.
Konflik : Perlunya mendukung kesejahteraan mental dan memberikan strategi manajemen stres dalam konteks pendidikan.
7. Dibentuk oleh Diversitas
Karakteristik : Tumbuh dalam lingkungan yang lebih inklusif dan multikultural.
Konflik : Konflik mungkin muncul jika pendidikan tidak mencerminkan dan menghargai keragaman budaya dan latar belakang murid.
C.
Menghamba Kepada Murid
Konsep menghamba pada anak (murid)
merupakan sebuah gagasan yang diusung oleh Ki Hajar Dewantara, tokoh sentral pendidikan
Indonesia. Ia mengajarkan bahwa guru harus mampu memahami dan memenuhi
kebutuhan muridnya agar proses pembelajaran dapat berjalan efektif dan efisien.
Menghamba pada murid bukanlah berarti guru tunduk dan menuruti keinginan murid
tanpa batas. Guru tetap harus menjalankan tugasnya sebagai pendidik, dengan
memberikan bimbingan dan arahan yang tepat, serta mengajarkan nilai-nilai moral
dan etika yang baik. Baliau juga menekankan bahwa guru harus mampu memahami dan
menghargai murid sebagai individu yang unik, dengan kebutuhan, minat, dan
potensi yang berbeda-beda. Guru juga harus memahami latar belakang sosial,
budaya, dan lingkungan murid, sehingga dapat menciptakan suasana belajar yang
kondusif.
Pendekatan menghamba pada anak juga dapat meningkatkan motivasi dan minat belajar murid. Ketika guru mampu memenuhi kebutuhan muridnya dan memberikan perhatian yang cukup, maka murid akan merasa dihargai dan terdorong untuk belajar dengan semangat yang lebih tinggi. Konsep menghamba pada anak juga mendorong terciptanya hubungan yang positif antara guru dan murid. Dalam hubungan yang positif ini, murid akan merasa nyaman dan aman untuk berinteraksi dengan guru, sehingga proses pembelajaran dapat berjalan dengan lebih efektif. Penting untuk memahami bahwa menghamba kepada murid tidak hanya berarti memberikan pengetahuan, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan penuh potensi. Guru harus menjadi mentor, motivator, dan teladan moral yang membimbing murid menuju keberhasilan.
D.
Tragedi dan Dampak Pengeluaran Murid
Pengeluaran murid menjadi
adegan tragis dalam dunia pendidikan yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Sanksi ini, yang biasanya menjadi tindakan terakhir, seringkali diambil tanpa
mempertimbangkan akar permasalahan. Sebuah tragedi yang berulang ketika murid
yang dikeluarkan masuk ke panggung baru dengan latar belakang pelanggaran yang
belum terselesaikan. Pengeluaran murid menjadi tragedi dalam pementasan
pendidikan. Ini tidak hanya memutuskan akses murid ke ilmu pengetahuan dan
keterampilannya, tetapi juga menciptakan kisah tragis di mana potensi dan masa
depan murid terancam terenggut oleh kebijakan yang lebih mementingkan penegakan
aturan daripada pembinaan karakter. Namun, ketika guru dihadapkan pada
kebijakan pengeluaran murid, panggung moral menjadi gelap. Keputusan untuk
mengeluarkan murid, yang seharusnya menjadi langkah terakhir, seringkali
diambil dalam konteks kebijakan sekolah yang ketat, meninggalkan guru dengan
dilema moral antara melanjutkan pembimbingan dan melaksanakan kebijakan yang
mungkin merugikan murid.
Disisi lain, praktik pemindahan murid tanpa penanganan kasus secara komprehensif dapat merugikan tidak hanya murid yang bersangkutan tetapi juga lingkungan pendidikan secara keseluruhan demikian pula orangtua/wali murid. Proses belajar mengajar terganggu, dan murid lain mungkin terpapar pada dinamika yang sama, mengurangi kualitas pembelajaran dan menciptakan ketidakstabilan di lingkungan sekolah. Pemindahan masalah murid dari satu panggung ke panggung lain menciptakan dramatisasi di lingkungan pendidikan. Efeknya seperti gelombang yang menghantam sekolah baru dan mengguncang harmoni pendidikan, merampas fokus dari pembelajaran yang seharusnya menjadi inti dari panggung ini. Pengeluaran murid dari sekolahnya atas pelanggaran yang dia lakukan dapat menciptakan dilema etis ketika murid tersebut diterima di sekolah lain tanpa mendapatkan evaluasi menyeluruh tentang kasusnya sebelumnya. Kebijakan ini bisa menyebabkan perpindahan masalah perilaku dari satu institusi ke institusi lain, tanpa memberikan solusi dan pembinaan yang memadai.
E. Guru sebagai Pemeran
Utama dalam Kurikulum Merdeka
Guru, yang seharusnya menjadi pemeran utama dalam pementasan Kurikulum Merdeka, terjebak dalam peran yang membingungkan. Mereka diharapkan mengabdi kepada murid, memandu mereka dalam menghadapi tantangan, namun di sisi lain, harus bersikap tegas dalam penerapan kebijakan pengeluaran yang kadang-kadang terkesan tanpa jiwa sebagai pendidik dengan sebenar benarnya pendidik yang terdidik. Kurikulum yang menekankan kebebasan dan pengembangan dan pembinaan karakter murid, guru memiliki tanggung jawab besar untuk membimbing dan mendidik murid, termasuk dalam hal perilaku. Pengeluaran murid seharusnya tidak hanya menjadi pilihan terakhir, tetapi sebaliknya, merangkul pendekatan rehabilitatif yang lebih proaktif dan kreatif.
F.
Dramatisasi Pencarian Solusi
Dalam kekacauan ini, terdapat panggilan dramatis di jiwa untuk mencari solusi yang lebih baik. Pendekatan rehabilitatif, pembinaan karakter, dan strategi restoratif seakan menjadi penjurus di tengah kebijakan yang lebih cenderung mengisolasi dan membuang. Pada kebijakan pendidikan seharusnya memberikan prioritas pada pendekatan pembinaan dan restorative itu, guru dapat memainkan peran kunci dalam membangun hubungan positif dengan murid, menerapkan strategi intervensi yang berfokus pada pembinaan karakter, serta melibatkan murid dalam proses pemecahan masalah untuk merestorasi keseimbangan di lingkungan pendidikan. Penting bagi kita untuk memahami bahwa tragedi pengeluaran murid bukanlah akhir dari kisah mereka, apalagi sekolah tidak menjamin masa depan mereka melainkan diri mereka sendiri. Kebijakan pendidikan perlu mengadopsi pendekatan yang lebih holistik, memungkinkan ruang bagi pertobatan, dan memberikan guru peran yang lebih proaktif dalam membentuk pembinaan perjalanan pendidikan murid.
G.
Penutup dan Rekomendasi Solusi
Perluasan pandangan terhadap kebijakan pengeluaran murid harus dipertimbangkan bahkan sebaiknya dihilangkan. Sekolah perlu bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan positif murid dan menanamkan nilai-nilai karakter. Guru, dalam konteks Kurikulum Merdeka, harus menjadi fasilitator pembelajaran yang tidak hanya mengajar, tetapi juga membimbing dan membangun hubungan yang erat dengan murid. Oleh karenanya, untuk memncapai harapan itu, ada 6 rekomendasi sebagai alternatif solusi yaitu :
1. Pendekatan Pembinaan dan Restoratif
Buka pintu menuju perubahan dengan pendekatan yang lebih pembinaan, Guru menjadi pelatih, bukan penilai yang mendikte. Restorasi jauh lebih bermakna daripada hukuman, Mengajarkan tanggung jawab, menciptakan jembatan untuk pertumbuhan.
2. Pengembangan Program Keterampilan Sosial
Tanamkan keterampilan sosial, sejak dini di sekolah, Agar murid belajar berinteraksi, memahami peran dan tugas. Program pembelajaran yang memadai, untuk menjaga etika, Mengurangi pelanggaran, mengangkat mutu pendidikan.
3. Kolaborasi dengan Orang tua dan Kelaurga
Orang tua adalah mitra, bukan hanya pengamat, Kolaborasi erat, bersama-sama membentuk karakter. Bersama mendidik, menghadirkan nilai-nilai yang berharga, Menciptakan lingkungan positif, tempat tumbuh bersama.
4. Penguatan Sistem Sosial dan Emosional
Bimbingan dan konseling, bukan sekadar lembar panduan, Sistem dukungan sosial dan emosional, jantung pendidikan. Guru menjadi telinga dan pelita di saat butuh, Menciptakan ruang aman, tanpa ancaman pengeluaran.
5. Edukasi Literasi Media dan Teknologi
Di dunia yang terhubung, literasi media jadi kunci, Mengajarkan etika digital, menjauh dari risiko benci. Teknologi bukan musuh, melainkan peluang belajar, Membimbing murid, menerangi jalan yang sehat dan cerdas.
6. Pemberdayaan Guru Melalui Pelatihan dan Pengembangan
Guru adalah pionir, membentuk generasi penerus, Pelatihan dan pengembangan, investasi yang berharga. Menjadi guru bukan sekadar mengajar materi, Tetapi juga membimbing, mengarahkan, menjadi pencerah.
Sebagai penutup pementasan ini, kita harus menggugah semangat
pendidikan yang sesungguhnya. Sebuah panggilan untuk mengembalikan cahaya pada
Kurikulum Merdeka, di mana guru dan murid sama-sama memerankan peran mereka
dengan kehormatan, kebebasan, dan tanggung jawab.Sebagai tirai merunduk pada
pementasan ini, kita dipanggil untuk merenung pada esensi pendidikan yang
sejati. Guru bukan hanya aktor di atas panggung, tetapi pematang yang menopang
dan menyirami kebun harapan. Pementasan yang sejati adalah ketika guru dan
murid bersama-sama menyanyikan lagu keberhasilan.
H.
Referensi
Alfin Alfalah, "Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara (Menghamba pada Anak)", download with www.kompasiana.com

Komentar
Posting Komentar